Rabu, 03 Maret 2010

openSUSE, distro alternatif lain selain Ubuntu

Sejak awal dirilis pada bulan Oktober tahun 2004, distro Ubuntu Linux memang sudah mulai merajai distro untuk desktop. Dengan kekuatan komunitas yang sangat tinggi serta dukungan komersial dan marketing yang sangat baik dari perusahaan Canonical sampai-sampai mau memberikan CD gratis kepada seluruh pengguna yang ingin mencoba Ubuntu (Melalui shipit.ubuntu.com). Ubuntu dikembangkan dari forking distro Debian versi sid dengan melakukan modifikasi pada beberapa bagian sehingga distro ini sangat ramah bagi banyak pengguna.


Jika anda sudah bosan untuk menggunakan Ubuntu sebagai distro Linux khusus Desktop dan ingin mencari distro alternatif lainnya, ada sebuah distro Linux yang patut anda coba. Namanya adalah openSUSE. Distro ini juga dikembangkan secara komunitas dan tersedia secara gratis (dapat diunduh secara bebas melalui website www.opensuse.org). Distro ini juga didukung secara komersial oleh perusahaan Novell, inc. Versi untuk enterprise dari openSUSE juga tersedia dengan nama SUSE Enterprise Linux.

Apa saja kelebihan dan kekurangan distro ini jika dibandingkan Ubuntu? Kali ini saya akan membahasnya secara singkat. Mulai dari cara mendapatkan, langkah instalasi dan desktopnya.

Mendapatkan openSUSE

Tidak sulit untuk mendapatkan openSUSE, para juragan mirror Linux di seluruh Indonesia sudah menyediakan distro ini, baik ISO-nya (citra CD/DVD yang akan siap di-burn untuk instalasi), serta repository-nya untuk memasang software tambahan. Berikut adalah beberapa link mirror yang patut dipertimbangkan :
Versi terakhir dari openSUSE pada saat postingan ini ditulis adalah 11.2 (masuk ke folder 11.2/iso). openSUSE juga menjadi bonus distro dari Majalah InfoLINUX edisi 02/2010. Jika anda mengunduh openSUSE, ada beberapa jenis citra CD/DVD yang bisa anda unduh (tersedia untuk komputer jenis x86-32bit maupun x86-64bit) :
  • KDE4 Live (CD), berisikan Live CD openSUSE dengan desktop KDE. Cocok untuk KDE mania.
  • GNOME Live (CD), berisikan Live CD openSUSE dengan desktop GNOME.
  • Installer (DVD), berisikan installer openSUSE dengan paket yang lumayan komplit. Installer-nya berbasis grafis dan anda bisa memilih apakah anda akan menggunakan desktop KDE atau GNOME melalui installer.
Selain itu juga terdapat Non-OSS Add-Ons CD yang berisikan beberapa paket aplikasi non Open Source seperti Adobe Reader, Flash, dan Java serta ada juga Add-Ons Lang CD yang bersisi paket tambahan untuk bahasa non-English.

Jika punya duit, anda juga bisa membeli versi box dari openSUSE melalui website http://en.opensuse.org/Buy_openSUSE.

Proses pemasangan

Instalasi openSUSE bisa dilakukan melalui Live CD atau Installer DVD. Jika anda ingin mencoba openSUSE terlebih dahulu, silahkan mencoba Live CD dengan versi desktop yang anda inginkan. Saya tidak akan menyarankan apakah anda memilih KDE atau GNOME, karena setiap desktop memiliki pangsa pasar dan kelebihan kekurangan masing-masing.

Sepertinya yang sudah dikatakan tadi, jika anda memasang lewat Installer DVD, maka anda bisa memilih desktop yang anda inginkan pada saat instalasi. Langkah instalasi antara melalui Live CD dengan Installer DVD tidak jauh beda, hanya saja opsi akan lebih mendetail jika anda memilih untuk menggunakan Installer DVD.


Proses instalasi openSUSE diawali dengan memilih Bahasa, lokasi anda , menyetujui persetujuan lisensi yang diberikan serta menentukan nama akun pengguna dan password. Kemudian anda bisa memilih desktop yang ingin digunakan (jika melalui Installer DVD) serta harddisk dan partisi yang ingin dipakai untuk instalasi. Opsi-opsi yang diberikan lumayan detail dan mungkin membingungkan bagi para pemula. Sebelum instalasi, instaler akan menampilkan review mengenai perangkat lunak yang akan dipasang, partisi yang ingin digunakan serta tempat instalasi boot loader. Anda bisa mengatur ulang beberapa bagian yang perlu diatur tanpa perlu repot-repot lagi untuk klik Back. Cukup klik bagian mana yang ingin anda atur dan kemudian atur ulang sesuai keinginan. Misalnya jika anda ingin mengatur ulang skema partisi, cukup klik judul "Partitioning".

Proses instalasi tidak begitu lama, kemudian setelah instalasi tanpa perlu proses restart lagi anda akan langsung masuk ke proses pos-instalasi untuk mengatur hardware yang terpasang seperti Printer, Scanner, Video Card, Sound Card. Walaupun openSUSE sudah melakukan pengaturan secara otomatis, tapi anda diberi keleluasaan untuk melakukan pengaturan lagi.

Akhirnya setelah proses instalasi dan pengaturan selesai, openSUSE sudah siap digunakan.
 
+ Antarmuka instalasi yang sangat keren dan lumayan lengkap
+ Adanya opsi untuk memilih antara desktop KDE atau GNOME pada installer DVD
+ Menyediakan installer berbasis DVD dengan pilihan software yang lumayan lengkap
+ Adanya fitur "summary" pada installer yang menampilkan ringkasan proses instalasi

- Installer mungkin agak sedikit rumit bagi para pemula 

Desktop KDE & GNOME

openSUSE secara umum menyuguhkan dua macam opsi desktop, yaitu KDE4 dan GNOME. Tidak jelas yang mana dijadikan default, tidak ada "menganaktirikan" salah satu jenis desktop.




KDE4 yang disertakan pada openSUSE memiliki warna dasar hijau khas openSUSE. Dari segi tata letak menu, tidak ada perbedaan sama sekali antara KDE4 versi openSUSE dan KDE4 versi Vanilla (yang asli). openSUSE menggunakan menu berjenis Kickoff khas KDE4.


Nah yang agak berbeda terjadi pada desktop GNOME. GNOME pada openSUSE ternyata sudah dimodif sehingga hanya menyajikan satu panel di bagian bawah, tidak seperti default-nya yang menyajikan dua panel (di atas dan di bawah). Menu-nya juga agak berbeda, GNOME pada openSUSE menggunakan menu khusus yang sangat sederhana, dengan menampilkan daftar aplikasi favorit, aplikasi yang sering dibuka, pencarian cepat, dan berbagai shortcut untuk pengaturan sistem dan untuk keluar dari sesi.

+ Desktop sudah dimodifikasi agar serasi dengan gaya openSUSE
+ Warna hijau yang sangat segar dan menyejukkan
+ Tata letak panel pada GNOME dimodifikasi agar mirip dengan Windows (Dengan hanya berisikan satu panel di bagian bawah)

- Menu pada GNOME agak menjengkelkan, karena untuk membuka aplikasi selain yang masuk favorit, harus klik tombol "More applications", baru membuka aplikasi yang diinginkan

Aplikasi

Seperti Linux lainnya, openSUSE menyertakan berbagai jenis aplikasi esensial berbasis Open Source, seperti Mozilla Firefox, OpenOffice.org, dan berbagai aplikasi lainnya. Hanya saja, OpenOffice.org pada openSUSE merupakan edisi khusus dari Novell (Open Office Novel Edition), dengan menambahkan berbagai fitur seperti dukungan VBA, dukungan format Office Open XML.



Untuk dukungan format multimedia, masih seperti distro besar lainnya. openSUSE tidak menyertakan berbagai dukungan format multimedia tertutup, seperti MP3, DVD, dsb. Namun anda bisa menambahkannya melalui repository yang tersedia.


Untuk aplikasi yang spesifik dengan desktop, masih sama dengan distro lainnya. KDE menyertakan aplikasi esensial yang kebanyakan diisi dengan unsur huruf "K" (Misal: Kwrite,  Kmail, Kate, AmaroK, dsb). Namun hal ini agak berbeda pada GNOME, karena openSUSE cenderung menggunakan aplikasi-aplikasi buatan perusahaan Novell, seperti F-Spot, Banshee Music Player, Tomboy, Beagle, dll.

+ OpenOffice.org sudah dimodifikasi sehingga memiliki dukungan untuk berbagai format yang tidak didukung secara default oleh OpenOffice.org Vanilla.

- Kebanyakan aplikasi pada GNOME merupakan buatan Novell yang berbasis pustaka Mono, mungkin beberapa pengguna merasakan agak berat

Manajemen Paket

Manajemen paket merupakan suatu keunikan di dunia Linux. Dengan manajemen paket, pengguna bisa mengunduh paket software kemudian memasangnya dan bahkan melakukan update paket software secara otomatis tanpa perlu banyak bekerja untuk melakukan hal tersebut secara manual.

Jika pada Ubuntu, paket-paket dikemas dalam berkas berekstensi *.deb, maka di openSUSE menggunakan format *.rpm (Redhat Package Manager), sama seperti yang digunakan pada distro Fedora, Redhat maupun Mandriva. Untuk sistem manajemen paketnya, openSUSE (sejak versi 11.0) menggunakan sistem manajemen paket bernama Zypper yang sangat mirip dengan APT-GET pada Ubuntu dan Debian.

Dilihat dari fungsinya, Zypper tidak begitu jauh berbeda dengan APT-GET. Bahkan, Zypper bisa mengupdate database paket secara otomatis tanpa perlu memanggil perintah semacam "apt-get update" pada Ubuntu.


openSUSE memiliki dua macam repository resmi, yaitu Oss dan Non-Oss. OSS berisikan berbagai software berlisensi FOSS, sedangan Non-OSS berisikan aplikasi berbasis Non-FOSS seperti Java, Flash, dsb. Namun, repository resmi ini tidak menyediakan berbagai pustaka non-FOSS seperti codec multimedia. Selain kedua macam repository resmi, ada beberapa repository tidak resmi. Salah satunya yang paling sering digunakan adalah repository Packman, yang berisikan software diluar repository resmi.

+ Zypper bisa melakukan update database secara otomatis pada saat instalasi software

- Repository pada openSUSE menyediakan software lebih sedikit jika dibandingkan repository resmi Debian/Ubuntu

Pengaturan dan Administrasi Sistem

Nah inilah dia kelebihan dari openSUSE yang benar-benar luar biasa. openSUSE menyediakan tools bernama Yast2 yang merupakan pusat pengaturan dan administrasi sistem terintegrasi pada sistem operasi openSUSE. Yast2 bisa dibuka baik melalui GUI maupun Text.


Pengaturan yang ada meliputi pengaturan hardware, manajemen paket, jaringan, adminsitrasi sistem, dan bahkan pengaturan server.

+ Control Center terintegrasi yang sangat powerfull dan lengkap

Kesimpulan

Setelah review singkat tadi, ternyata openSUSE memang sangat layak dijadikan alternatif daripada distribusi Linux. Banyak sekali kelebihan-kelebihan yang terdapat pada distribusi ini. openSUSE patut anda coba sebagai distro untuk desktop maupun server. 

Daya tarik utama dari distro ini adalah Control Center bernama Yast2 yang sangat mudah digunakan, powerfull, dan juga sangat lengkap untuk melakukan pengaturan-pengaturan sistem. Jangan perlu takut lagi untuk melakukan pengaturan melalui teks, karena openSUSE sudah menyediakan pengaturan berbasis grafis yang sangat lumayan ini.
 
Dokumentasi

Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai openSUSE, pihak Novell menyediakan dokumentasi lengkap dengan format PDF yang bisa anda unduh melalui http://www.novell.com/documentation/opensuse112/. Dokumentasi ini sangat membantu anda dalam menggunakan openSUSE.

5 komentar:

  1. Wah..., wah..., kalau ada perang distro saya pilih OpenSuSE saja. Saya kan pendukungnya Green Gecko, malah bagi saya Ubuntu yang merupakan distro alternatif, he he ... :D

    BalasHapus
  2. Kira-kira itu makan space memori berapa yach,coz inih si sayah pake HP Mini netbuk,jadinya kudu irit memori gtoh, ?

    BalasHapus
  3. Di openSUSE, KDE dan GNOME dikembangkan sederajat. Tapi, demi alasan usability, installer DVD memakai opsi KDE sebagai default. Pengguna bisa mengubah opsi ini manual.

    Tidak juga bisa dipungkiri, selain di Mandriva & PCLinuxOS, KDE4 atau yang terbaru umumnya relatif stabil di openSUSE. Mungkin dipengaruhi banyaknya sumbangsih pengembang openSUSE di KDE dan kernel.

    Terkait OpenOffice, kerjasama Novell dan Microsoft--yang sempat dicibir massa Linux lainnya--terkait Office Open XML, kini juga bisa dinikmati/diporting via ooo--build di distro masing-masing. Silakan pasang go-openoffice. Beberapa distro bahkan sudah membundelnya by default.

    Poin saya untuk openSUSE:
    a) proses/detail instalasi GUI terbaik (awas, bisa terlalu melenakan; karena Gentoo saya tertimpa olehnya) :)
    b) polesan antarmuka/GUI terbaik (kadang bahkan berlebihan)
    c) Yast2 Install kurang segegas Synaptic

    Menurut saya, untuk HP Mini, openSUSE cukup layak dipakai. Jatah harddisk 20GB dan RAM 1GB sudah mencukupi. Saya sekarang pakai Arch Linux di HP Mini. :)

    BalasHapus