Selasa, 02 Maret 2010

[Campaign] Gunakan Bahasa Indonesia untuk antarmuka komputer anda!

Tidakkah anda menyangka, selama ini menggunakan komputer dengan antarmuka yang bukan dari bahasa anda sendiri? Yap, itu hanya di Indonesia, kebanyakan tidak mau menggunakan antarmuka dengan Bahasa Indonesia pada perangkat lunak komputernya. Alasannya, berbagai macam :
  1. Tidak biasa
  2. Tidak keren
  3. Tidak gaul
  4. Tidak ngerti
Ketiga alasan pertama memang masuk akal. "Tidak biasa" disebabkan karena dari dahulu memang pengguna komputer di Indonesia hanya dijejali dengan antarmuka berbahasa Inggris. "Tidak keren" dan "Tidak gaul" disebabkan oleh dua faktor, yang pertama adalah akibat dari "Tidak biasa" tadi, dan yang kedua adalah budaya orang Indonesia yang lebih suka budaya asing, mempelajari bahasa orang bule daripada mempelajari bahasanya sendiri secara mendalam. Yang terakhir adalah "Tidak ngerti",  ini baru agak sedikit nyeleneh. Wong pake Bahasa sendiri kok bingung?

Alasan tidak ngerti biasanya terjadi pada pengguna Windows berbahasa Indonesia. Sebab antarmukanya tidak menggunakan Bahasa Indonesia, dan tidak juga Bahasa Melayu (setengah-setengah). Berikut adalah contohnya setelah saya melihat antarmuka Windows Vista Starter Bahasa Indonesia yang didapatkan dari sebuah komputer built up :
  • Save = Amankan
  • Shut Down = Tutup Kemas
  • Mouse = Tetikus
  • Wizard = Wisaya
Pokok'e aneh, namun untungnya hal itu tidak terjadi pada dunia Open Source, istilah Indonesia-nya lebih masuk akal. Misalnya Save diterjemahkan dengan istilah Simpan, Wizard dengan Pemandu.
Pada postingan kali ini, saya akan mengkampanyekan penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa antarmuka pada sistem operasi Linux yang anda gunakan. Kesan pertama memang tidak biasa, namun jika kita memiliki fanatisme yang tinggi seperti di negara lain yang menggunakan bahasa mereka sendiri sebagai bahasa pada antarmuka komputernya. Fanatisme yang tinggi terhadap Bahasa akan menimbulkan kesan Nasionalisme yang tinggi juga. Jadi, belajarlah membiasakan diri untuk menggunakan Bahasa sendiri sebagai bahasa antarmuka. Anda bisa juga mulai mengubah antarmuka layanan-layanan Internet seperti Google, Facebook, Twitter, Plurk, dsb ke Bahasa Indonesia.

Namun untuk saat ini, memang terjemahan perangkat lunak Open Source ke Bahasa Indonesia tidak begitu banyak. Diharapkan akan ada lebih banyak dermawan yang mau meluangkan waktunya untuk menerjemahkan berbagai aplikasi-aplikasi.

Btw, ini ada sedikit skrinsut laptop saya yang menggunakan Ubuntu Lucid Testing dengan antarmuka Bahasa Indonesia (Terjemahan GNOME + OpenOffice.org sudah hampir 100%) :


8 komentar:

  1. Saya dari dulu sudah menggunakan pe-lokalan bahasa di sistem operasi (baik Windows maupun Linux), tapi kadang temen yang minjem komputer malah ga ngerti cara pakai komputer saya :D

    BalasHapus
  2. mungkin harus ditambah satu "tidak" lagi, yaitu tidak akurat. kadang tim penterjemah memberikan padanan yang kurang tepat untuk bahasa Indonesia dari sebuah antarmuka. misal "save", kenapa tidak "simpan" saja? kok kalau "amankan" rasanya terlalu textual (atau lexial?) ya?

    BalasHapus
  3. Kalo bahasa Indonesianya normal sih, ya ayo aja, sy juga mau. Kalo pake kosa kata aneh-aneh, mending saya set ke english, ga ngerti pun dengan gampang bisa cari artinya di kamus online terlengkap (baca: google).

    Peluang juga nih, ngebenerin kata-kata aneh di terjemahan Indonesia. Sy pernah akses web luar, otomatis terdeteksi dari Indonesia, dan terjemahan Indonesia yg dipake bagus bgt, Ntar nyari lagi situsnya apa.

    BalasHapus
  4. @ Mas Hielmy,

    Mungkin menurut saya lebih tepat pakai kata amankan sih...

    Save = amankan (verb)
    Save = simpan (verb)

    Kadang bikin pusing, tapi coba ditelusuri makna awalnya. Rasanya fungsi save adalah mengamankan dokumen kita agar tidak rusak atau berubah, atau mengembalikan pada posisi pasca perbaikan yang tidak sesuai.

    BalasHapus
  5. Benar kendala yang paling sering adalah "tidak mengerti" kata-kata terjemahan tersebut. Apalagi biasanya pakai bahasa inggris.

    Terus biasanya terjemahan tidak konsisten. Contoh penggunaan kata "edit" dalam gambar.

    Di program Manajer Paket Synaptic ditulis "Edit" (tidak ada perubahan)
    Sedangkan di dua program lainnya ditulis "Sunting"

    Coba perbesar gambarnya untuk lebih jelas.

    Mungkin saja penerjemahnya berbeda, tapi bisa dimaklumi karena ada itikad baik untuk menerjemahkan saja sudah bagus.

    Hal ini sebenarnya tidak masalah karena masih pengguna masih ngerti tetapi akan membuat pusing dan tidak biasa, dan menurut saya sepertinya kurang professional. Mungkin ke depan akan lebih bagus lagi.

    BalasHapus
  6. @Anonim: pelokalan "profesional" (tergantung mengartikannya bagaimana) kadang juga tidak "sebagus" pelokalan "tidak profesional". :)

    Ngemeng-ngemeng, saya suka dengan nokia.co.id, hehehe

    BalasHapus
  7. Pakar-pakar pelokalan turun gunung. :)
    Jika bukan kita, pengguna Indonesia, yang mulai memopulerkannya, lalu siapa lagi?
    Rujukan bisa mengacu ke KBBI atau istilah serapan yang disetujui bersama di komunitas penerjemah distro.

    BalasHapus