Sabtu, 30 Januari 2010

Dilema anak SMP mengendarai Sepeda Motor (Antara semakin sepinya Angkutan Umum dan ramainya Angkutan Pribadi)


Siswa sekolah menengah pertama (SMP) membawa sepeda motor adalah hal biasa yang sering terlihat saat ini. Orang tua sudah menyediakan fasilitas tersebut untuk memudahkan mereka menuju ke suatu tempat. Namun disisi lain, karena mereka masih belum memiliki izin resmi dan sah dari Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk mengendarai Sepeda Motor (dengan kartu yang disebut dengan SIM-C), mereka cenderung kejar-kejaran dan berusaha untuk menghindari Polantas (Kepolisian Lalu Lintas) agar mereka tidak ditilang.

Menurut saya, mereka adalah korban yang tidak bisa dihindari lagi, dengan semakin modern-nya zaman ini. Mengapa saya bisa katakan demikian? Karena di zaman yang makin aneh ini, siswa SMP cenderung kebanyakan aktivitas selain aktivitas belajar rutin di sekolah. Aktivitas ini bisa berupa aktivitas ekstrakulikuler dan juga bimbingan belajar Private dengan gurunya agar prestasi mereka bisa semakin meningkat. Lantas dengan semakin berkurangnya dan tidak efisiennya angkutan-angkutan umum yang ada saat ini akibat pengunaan angkutan pribadi yang meningkat drastis serta orangtua yang cenderung sedikit memiliki waktu dan kerepotan untuk antar/jemput, maka akhirnya merekapun harus mengendarai sepeda motor sendiri, walaupun risikonya berat. Anak SMP cenderung belum memiliki mental yang baik untuk mengendarai kendaraan bermotor. Banyak sekali kecelakaan yang disebabkan akibat kelalaian anak SMP mengendarai sepeda motor.

Lantas dengan hal itu, apakah kita harus menyalahkan segalanya ke orang tua dan siswa SMP nya? Oh tentu jangan! Sebab kesalahan paling banyak ada pada penguasa daerah, alias Pemerintah. Mengapa Pemerintah? Karena mereka tidak mampu atau bahkan malas untuk mengurus angkutan umum di daerahnya agar mudah dijangkau oleh siswa serta jalur trayeknya meliputi jalur-jalur sekolah agar siswa bisa menaiki angkutan umum dengan nyaman sampai di depan sekolahan tanpa harus jalan kaki lagi beberapa kilo untuk menuju ke sekolahnya. Selain itu, angkutan umum juga hendaknya beroprasi dari pagi hingga menjelang malam agar bisa dijangkau kapanpun. Jadi orang tua tidak akan repot antar jemput antar jemput anaknya.

Contoh kasus gagalnya pengelolaan pemerintah terhadap angkutan umum bisa dilihat di Kota Denpasar. Dulu pas saya masih kecil, saya melihat banyak sekali angkutan-angkutan umum yang membawa saya dari Terminal Batubulan menuju Pasar Kreneng. Namun sekarang? Saya hanya lihat sebuah angkutan umum lewat di JL. WR. Supratman setiap 1 jam saja. Sangat jarang! Malahan sepeda motor di Denpasar sekarang membuat Jalan-Jalan protokol makin sumpek. Buktinya ada di jalan protokol seperti Hayam Wuruk, Teuku Umar, Diponegoro dan paling parah ada di Imam Bonjol.
Nah jika misalkan ada angkutan umum, apakah ini akan menguntungkan bagi supir dengan kondisi saat ini yang semua kendaran serba milik pribadi? Oh tentu saja tidak akan ada yang ingin menjadi supir angkot lagi karena tidak menguntungkan. Sebaiknya Pemerintah harus secara tegas mengerem penjualan kendaraan pribadi di dealer-dealer agar hal ini tidak terjadi. Toh dealer-dealer setiap harinya pasti ada satu transaksi pembelian kendaraan baru, inilah yang membuat suasana makin padat saja. Mengapa pemerintah tidak membuatkan perda untuk hal ini? Apakah karena ada sogokan dari sang pemilik dealer. Saya tidak tahu hal ini.

Saya dengar terakhir Pemprov Bali merencanakan angkutan bernama SARBAGITA (Denpasar Badung Gianyar Tabanan) dengan berbagai trayek. Dimohon kepada Pemerintah daerah agar juga mengoptimalkan angkutan umum bagi para siswa dengan melalui beberapa Jalur Pendidikan. Bagaimanapun caranya agar siswa (khususnya SMP) tidak terpaksa mengendarai sepeda motor untuk menuju ke sekolahnya. Kasihan orang tua capek-capek antar/jemput agar anaknya tidak mengendarai sepeda motor. Kasihan juga anak-anak jika harus berjalan jauh karena tidak adanya angkutan umum jika tidak mengendarai sepeda motor sendiri. Dan juga, kasihan siswa kewalahan untuk ikut les dan ekstra di sore hari.

3 komentar:

  1. di tempat gue banyak anak esempeh bawa motor, udah jelas-jelas ada porlantas, eh masih nekat sajah itu anak, belum lagi porlantasnya kebingungan karna banyak anak esempeh bawa motor...

    kalo diperkirakan bisa mpe puluhan anak tuh...

    BalasHapus
  2. tapi biasanya polisi akan membiarkan bila ada anak dibawah umur yg belum bisa buat sim dan membawa motor.tinggal nunjukin kartu pelajar ajah.:-)

    my_blog

    BalasHapus
  3. Hehe, satu lagi faktornya bos, gengsi anak SMP/SMA masih tinggi2nya, kalo ndak diajarin/dikasi motor ntar ngambek kalah pamor ma temen2nya ^^ ancemannya ada aja, dari ndak mau sekolah ampe bunuh diri pulak wkwkwkwk ...

    BalasHapus