Rabu, 08 Juli 2009

SETELAH EMPAT TAHUN TIDAK BERTEMU, AKHIRNYA DIRIKU BISA BERTEMU DIRIMU JUGA :X

Ini cerita nyata dari diri saya, berikut adalah petikan ceritanya.
Alkisah seorang Wira bertemu bertemu dengan mantan kekasihnya, setelah selama 4 tahun tidak pernah bertemu. Si Wira terkagum-kagum melihat si kekasihnya, karena terlihat semakin cantik dan semakin sexy. Nama kekasihnya juga sedikit berganti, agar lebih modern dan tidak "ndeso". Si Wira merasa CLBK alias Cinta Lama bersemi kembali :x.
OK, back to topic (emang dari tadi gak keluar dari topik koq :P). Cerita ngawur tersebut HANYALAH sebagai PERUMPAMAAN perasaan saya saat ini. Yang dimaksud kekasih itu adalah distro Mandriva Linux, yang sebelumnya bernama Mandrake. Saya kembali bisa melihat distro ini, setelah empat tahun saya tidak pernah melihatnya. Sebelumnya saya bertemu dengan si Mandriva (yang namananya masih Mandrake pada saat itu) pada tahun 2004, pada saat masih versi 10.0. Mandrake 10.0, begitulah namanya merupakan distro Linux yang pertama saya gunakan pada saat pertama kali menggunakan Linux. Pada saat itu, Mandrake merupakan distro yang sangat tenar pada saat itu, karena kemudahannya dan sangat ramah untuk pengguna. Baru kemudian beberapa tahun kemudian, Ubuntu yang lebih mendominasi. Awal saya mencoba distro Mandrake 10.0, saya menggunakan desktop KDE versi 3.2, dan kemudian GNOME 2.04. Jaman lampau seperti itu belum mengenal istilah Compiz Fusion untuk efek desktop :P. Namun, desktop yang saya gunakan tersebut terasa menawan dan indah dipandang. Karena komputer saya pada saat itu sangat lambat, saya akhirnya merasa berat dengan desktop tersebut dan kemudian beralih ke window manager Icewm. Disinilah saya mulai belajar mengoprek-ngoprek Mandrake saya, mulai dari belajar terminal dengan sekedar membuka akses ke root melalui perintah "su -" (bukan susu). Kemudian, saya juga mencoba menggunakan perintah-perintah dari DOS yang pernah saya pelajari pada saat kelas 3 SD (tahun 2002). Ternyata, ada beberapa perintah yang jalan dan ada yang tidak jalan (copy, rename, md, dsb). Berbekal kemampuan menggunakan perintah "cd" dan "dir", saya mengeksplorasi folder-folder pada filesystem. Saya menemukan berbagai perintah dasar tersimpan pada folder /bin, kemudian binari software tersimpan pada /usr/bin dan data-data software tersimpan pada folder /usr/share. Saya kemudian mengenali perintah-perintah seperti cp, ls, mv, man, soffice :D, dsb. Tidak puas belajar manajemen file, saya coba-coba memasang dan menghapus berbagai software menggunakan perintah urpmi dan frontend rpmdrake. Dari sinilah saya mengenali berbagai macam software-software di Linux, mulai dari WINE sampai Ktuberling saya bisa mengetahuinya. Waktu terus berjalan, akhirnya saya mencoba distro-distro lainnya mulai dari Ubuntu, Debian, Fedora sampai SuSE (dulu belum ada kata "Open"). Dan akhirnya, saya menjadi maniak distro turunan Debian (termasuk Ubuntu). Selama waktu itu pula, saya tidak pernah mencoba sedikitpun distro Mandrake (yang saya sudah ketahui berubah nama, menjadi Mandriva). Selain itu, saya juga merasakan KDE pada Mandriva lebih ringan daripada yang ada pada Kubuntu 9.04. Dan akhirnya, saya kembali bisa bertemu dengan si mantan kekasih yang kini sudah berubah namanya, yaitu Mandriva. Sekarang versinya sudah 2009.1 (Spring) yang saya dapatkan pada Infolinux edisi 07/2009 yang sudah naik harga (angry). Yang pertama saya pandang dari Mandriva yang baru ini adalah, tentunya semakin cantique dan semakin sexy :D. Walaupun begitu, sifat-sifatnya yang dulu masih sama. Usabillity desktop "saya rasa" masih hampir sama dengan Mandriva yang dulu. Walaupun sudah menggunakan desktop KDE 4.2, namun Mandriva sengaja mempertahankan model menu KDE classic, dan ogah menggunakan model menu KDE masa kini yaitu Kickstart. Yang menjadi nilai plus dari Mandriva adalah adanya Control Center lengkap dan terintregasi, seperti pada OpenSuSE. Ada hal lucu yang saya rasakan pada saat saya mencoba membuka Mandriva Control Center menggunakan terminal. Dulu, saya biasa menggunakan perintah "drakconf" untuk melakukan hal ini. Terus sekarang, saya mencoba membukanya dengan perintah "drivaconf", karena namanya sudah berubah daripada dulu. Ternyata? hasilnya sebagai berikut : [wira@localhost ~]$ drivaconf bash: drivaconf: command not found [wira@localhost ~]$ Halah, ternyata nama perintahnya masih teuteup seperti dulu, yaitu drakconf. Hal yang sama juga berlaku untuk rpmdrake. Wkwkwkwkwkwkwkwkwkw. OK, demikian sekedar cerita dan sharing saya kepada blogger semua. Mohon maaf jika ada salah kata (terutama yang merasa nama Mandrake itu ndeso) :D

3 komentar:

  1. duh bener2 kangen juga nih... klo dulu saya menggunakan Mandrake 9.0 dan 9.2

    Sampai skr masih ada tuh CD nya

    Sekedar Corat Coret Ilmu

    BalasHapus
  2. ogut malah dari mandrake 8.0, masih ada cdnya

    BalasHapus
  3. ga sempet nyoba tuh mandrake 8.0

    jd inget pertama kali nginstall red hat 6.2 alhasil 1 harddisk kehapus semua...

    yah bener2 nostalgila yah

    Sekedar corat coret Ilmu

    BalasHapus